Macam-macam rumput
Artikel
Macam-macam rumput
1. Jenis-jenis
rumput
a. Rumput gajah (Pennisetum
purpureum)
Rumput
merupakan tumbuhan monokotil, mempunyai sifat tumbuh, yaitu membentuk rumpun, tanaman
dengan batang merayap pada permukaan, tanaman horisontal dengan merayap tetapi
tetap tumbuh ke atas dan rumpun membelit (Sarwono,1987).
Nama latin : Pennisetum purpureum, Nama umum : Elephant grass, Napier grass,
rumput gajah, Asal : Afrika, deskripsi : perennial, bentuk rumpun, mempunyai
rhizom, tumbuh tegak (4-5 m),setiap kg 3 juta biji, dapat tumbuh setinggi 3
sampai 4,5 m, bila dibiarkan tumbuh bebas, dapat setinggi 7 m, akar dapat
sedalam 4,5 m. Berkembang dengan rhizoma yang dapat sepanjang 1 m. Panjang daun
16 sampai 90 cm dan lebar 8 sampai 35 mm (Sutopo, 1988). Biji sedikit dan
viability (daya hidup) rendah, tumbuh dari dataran rendah-dataran tinggi dengan
curah hujan sampai 2500 mm/tahun (Malang ± 2000 mm/th, tinggi 450 m dpl),
penyebaran secara vegetatif, hal ini penting untuk mempertahankan karakter
kultivar (cv.= cultivated variation), Kultur teknis rumput ini adalah bahan
tanam berupa pols dan stek, interval pemotongan 40-60 hari, responsif terhadap
pupuk nitrogen, campuran dengan legum seperti Centro dan Kudzu,
produksinya 100-200 ton/ha/th (segar), 15 ton/ha/th bahan kering (BK), renovasi
4-8 tahun (Reksohadiprojo, 1994), Rumput Gajah toleran terhadap berbagai jenis
tanah, tidak tahan genangan, tetapi respon terhadap irigasi, suka tanah lempung
yang subur, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan, tahan terhadap
lingkungan sedang dengan curah hujan cukup, 1000 mm/th atau lebih (Susetyo,
1985).
B. Rumput benggala (Panicum
maximum)
Panicum maximum atau rumput Benggala
atau disebut juga Guinea grass berasal dari Afrika tropik dan sub tropik.
Rumput jenis ini dapat berfungsi sebagai penutup tanah, penggembalaan, ataupun
diolah dalam bentuk hay dan silase (Reksohadiprodjo, 1985). Ciri-cirinya
bersifat perennial, batang tegak, kuat, dan membentuk rumpun. Akarnya membentuk
serabut dalam, buku dan lidah daun berbulu. Warna bunga hijau atau keunguan (Tumbuh pada daerah dataran rendah sampai
pegunungan 0–1200 m di atas permukaan laut. Produksi Panicum maximum
yang dihasilkan mencapai 100–150 ton/ha/th dalam bahan segar. Panen pertama
dilakukan setelah 2–3 bulan setelah penanaman (Sutopo, 1985). Sifat
hidup dari Panicum maximum adalah perennial, curah hujan yang sesuai untuk
rumput jenis ini adalah 1000 – 2000 mm/thn, rumput jenis ini tahan kering
tetapi tumbuh baik jika cukup air walaupun tidak tahan genangan (Setyati,
1980). Panicum maximum juga tahan naungan, responsif terhadap pupuk nitrogen,
dan juga tahan penggembalaan sehingga dapat dijadikan rumput potong ataupun
pastura (Reksohadiprodjo, 1985).
Panicum maximum
dapat ditanam bersama leguminosa Centrosema dengan perbandingan 4 – 6 kg
Panicum per ha dan 2 – 3 kg Centro per ha atau dalam baris-baris berseling
(Reksohadiprodjo ,1985).
Pemotongan dapat dilakukan 40 – 60 hari sekali atau dengan kata lain pemotongan
pertama dapat dilakukan 2 – 3 bulan. Pembongkaran kembali dapat dilakukan
setelah 5 – 7 tahun (Widjajanto,1992). Panicum maximum mampu menghasilkan
produksi biji 75 – 300 kg/ha dan menghasilkan produksi hijauan sebanyak 100 –
150 ton bahan kering per ha per tahun (Reksohadiprodjo, 1985).
c. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides)
Rumput raja berasal dari Nigeria dan terebar luas
di seluruh Afrika Tropik. Rumput raja biasanya dikembangkan dengan stek batang
atau pols dan mampu tumbuh baik pada tanah ringan sampai berat. Rumput raja
dapat tumbuh pada ketinggian 0-3000 m diatas permukaan air laut dengan curah
hujan tahunan sebesar 1000 m atau lebih (Reksohadiprojo, 1994). Rumput
Raja mempunyai ciri-ciri antara lain: lengkap dengan organ tubuh, struktur dau
tidak sempurna, berdaun tunggal, bersirif sejajar, batang berbentuk silindris
dan persegi, berakar serabut, hidup ditempat kering, struktur daun kasar,
termasuk monokotil, tumbuh berumpun – rumpun, batang tebal, keras, helaian daun
panjang dan ada bulu serta permukaan daunnya luas. Produksi rumput Raja segar
dapat mencapai 40 ton /hektar sekali panen atau antara 200 – 250
ton/hektar/tahun (Rukmana, 2005).
d. Rumput Setaria (Setaria sphacelata)
Rumput setaria dikenal dengan sebutan rumput
Goden Timothy atau Setaria sphacelata, berasal dari Afrika tropik dan memilki
siklus hidup parenial. Rumput setaria merupakan tanaman yang dapat membentuk
rumpun yang lebat, kuat, dengan atau tanpa stolon dan rhizoma (Reksohadiprodjo,
1985). Rumput Setaria daunnya lebar dan agak berbulu pada permukaan atasnya.
Pangkal batangnya berwarna cokelat keemasan. Setaria sphacelata biasanya
dikembangbiakkan dengan pols (Soegiri et. al, 1982). Rumput ini ketika dewasa
dapat mencapai ketingian 180 cm, tahan kering dan genangan, hidup pada
ketinggian 1000 kaki, dan pada curah hujan 25 inchi pertahunnya
(Reksohadiprodjo, 1985). Jenis rumput ini dapat tumbuh baik pada tanah
berstruktur ringan, sedang dan berat dengan ketinggian tempat 200-3.000 m dpl
dan curah hujan > 1.000 m dpl. Tanaman ini cukup responsif terhadap
pemupukan N.

e. Rumput meksiko (Euchlaena
mexicana)
Rumput ini bersifat annual,
morfologinya seperti tanaman jagung. Tanaman ini berasal dari Mexico dan
Amerika Tengah, hidup di daerah tropik yang basah dan subtropik yang tanahnya
berair. Ukuran daun pada rumput meksiko lebih lebar dari jenis rumput lain, dengan
panjang daun kurang lebih 1,5 meter dan lebar daun kurang lebih 10 cm. tulang
daun menjari, batang tidak berbulu dengan diameter kurang lebih 3,5 cm dan
batang muda berbentuk pipih serta batang tua berbentuk elips (Sarwono, 1987).
Tanaman ini bisa tumbuh baik pada tempat yang memiliki tanah berstruktur sedang
atau berat dengan ketinggian sampai 1.200 m dpl dan curah hujan 2.000 m/tahun.
Biasanya tanaman ini diperbanyak dengan sobekan rumpun (pols).
Daftar
Pustaka
Reksohadiprodjo,
S. 1985. Produksi Biji Rumput dan Legum Makanan Ternak Tropik. BPFE UGM,
Yogyakarta
Rukmana, R. 2005. Budidaya Rumput Unggul. Kanisius.
Yogyakarta.
Sarwono, B. 1987. Macam-Macam Rumput Potong. Trubus, Jakarta
Soedomo, R 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan
Ternak Tropik. PT Gramedia, Jakarta
Soegiri, H. S., Ilyas dan Damayanti. 1982. Mengenal Beberapa Jenis Makanan Ternak Daerah Tropis. Direktorat Biro Produksi Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta
Susetyo, S. 1985. Hijauan Makanan Ternak. Dirjen
Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta
Sutopo, L. 1988. Teknologi Benih. CV. Rajawali,
Jakarta
Widjajanto,
D. W. 1992. Pertumbuhan dan Produksi Potong pada Berbagai Kadar Lengas Tanah.
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
Van, C. GG. dan J Steenis. 1975. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. Pradnyaparamita, Jakarta.
sumber: http://smally23.blogspot.co.id/2013/04/macam-macam-legum-dan-rumput.html